Syekh Khader Adnan mempublikasikan kesaksian tentang penyiksaan yang dialaminya di rumah jagal Areeha, penjara brutal yang disebut "Otoritas" yang telah menahan sejumlah Pemimpin Perlawanan. Dia menceritakan bagaimana mereka para pengkhianat ini (Otoritas Palestina di Ramallah) memasang kantong di atas kepalanya, melemparinya, menamparnya, dan menyiksanya dengan cara-cara tidak manusiawi dengan borgol khusus, sengaja menargetkan anggota tubuhnya dalam upaya untuk melumpuhkan Raksasa Perlawanan ini saat dia masih menjadi mahasiswa muda di Birzeit. Mereka menarik jari-jarinya dan memborgolnya ke jendela selama berjam-jam. Mengapa? Karena sebagai mahasiswa dia berani meng-organisir upaya pembebasan Palestina dari penjajahan.
Episode ini menandai awal dari saga lima aksi mogok makan heroik Syekh Khader Adnan. Bukan melawan penjajah, tetapi melawan Otoritas Palestina. Di sini, dia belajar bahwa "kebebasan direbut, tidak diberikan, dan keheningan tentang ketidakadilan ini adalah ketidakadilan terhadap diri sendiri dan keterlibatan dalam ketidakadilan terhadap orang lain." Dia menceritakan bagaimana perwira PA yang menyiksanya (Faleh Arar) kemudian menjadi kepala komite keamanan PA.
Syekh Khader menulis, "Saya ditangkap di penjara penjajah dan melakukan mogok makan seperti yang saya lakukan di Areeha... Tahun-tahun telah berlalu, penangkapan [oleh PA] telah berulang, berubah menjadi penganiayaan dan percobaan [pembunuhan terhadap saya] dengan pakaian sipil. PA maju, berkembang, memfitnah, dan menghasut... Mereka membunuh Nizar. Hari ini, mereka ingin membunuh kami dengan menyebarkan tuduhan palsu dan menghasut rumah-rumah Para Syuhada, Para Tahanan, yang terluka, dan melakukan pengawasan jarak jauh."
Syekh Khader berdiri teguh. Ketika PA membunuh kritikus Nizar Banat, dia menyatakan, "Siapa pun yang membunuh Nizar Banat mencoba membunuh saya." Pasukan PA dan Fatah mencoba mengambil nyawanya, melepaskan tembakan ke arahnya di Nablus setelah serangkaian serangan panjang. Syekh Khader mengatakan, "Sepertinya mereka tidak membutuhkan 14 orang untuk membunuh saya, seperti yang mereka lakukan dengan Nizar Banat."
Anak-anak Oslo (Perjanjian Oslo, perjanjian diam-diam antara PA dan penjajah yang membuat 3/4 tanah Palestina jatuh ke tangan penjajah) menyerang dan menyiksa syahid heroik Syekh Khader Adnan, dan hari ini mereka menangis air mata buaya untuk jiwanya yang lebih terhormat daripada seluruh nilai "Otoritas". Ketika Basil Al-Araj dibunuh oleh IOF dengan bantuan PA, PA datang untuk menyerang Syekh Khader lagi. Ayah Basil Al-Araj menulis: "Saya menebus Anda dengan jiwa saya, wahai Syekh Khader Adnan, wahai penakluk Tatar."
Pada pemakaman Basil setelah Syekh Khader diserang oleh PA, Syekh Khader mengarahkan pesan kepada musuh-musuh pembebasan ini: "Jika suatu hari saya gugur (syahid), jangan ada yang mendekati jenazah saya, jangan masuk ke rumah-rumah kami, jangan bergabung dengan kami dalam berduka cita, belasungkawa, atau perayaan kami, karena kalian memiliki kebencian dan kelancangan terhadap kami melampui besarnya kebencian dan kelancangan penjajah terhadap kami."
Memang, pasukan PA menyerang pawai kemarahan Rakyat Palestina yang mengutuk pembunuhan Syekh Khader hari itu, bahkan kurang dari 24 jam setelah kematiannya. Kematian Syekh Khader sayangnya lagi-lagi menjadi bukti pengkhianatan Otoritas Palestina yang berkhianat. Meskipun mereka mengklaim mewakili kepentingan Palestina dan rakyatnya, tindakan mereka bertentangan dengan prinsip-prinsip pembebasan.
Berulang kali, Otoritas yang gagal ini telah menunjukkan pola pengkhianatan, penindasan, dan kekerasan terhadap mereka yang berjuang untuk pembebasan dan siapa pun yang berani menantang "otoritas" yang ditunjuk Zionis. Kasus-kasus ini mengingatkan bahwa jalan menuju pembebasan adalah melawan normalisator, parasit, dan kekuatan yang bekerja untuk melemahkan Perlawanan.
Hanya melalui keteguhan Para Legenda seperti Syekh Khader Adnan, Basil Al-Araj, dan Nizar Banat, yang telah menghadapi penderitaan tidak terbayangkan di tangan Otoritas Memalukan itu, bahwa jalan menuju pembebasan itu ditempuh. Kemuliaan bagi syuhada. Memalukan dan hidup hina dina bagi normalisator dan penyusup.
Palestine Resistance News (https://t.me/PalestineResist)>