🔙

Trump Menetapkan Batas Waktu bagi Hamas untuk Menerima Kesepakatan, yang ia kemas dengan Klaim Palsu

[2025-10-03]

Artikel ini merupakan terjemahan dari berita yang dipublikasikan oleh Quds News Network:

"Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum dramatis di Truth Social, menuntut Hamas menyetujui apa yang ia sebut sebagai "perjanjian damai" pada Minggu malam. Namun, postingannya dipenuhi dengan kebohongan, angka yang dibesar-besarkan, dan klaim sejarah yang menyesatkan.

Trump mengklaim lebih dari 25.000 pejuang Hamas telah terbunuh. Ia berpendapat bahwa sisanya 'terperangkap secara militer' dan menunggu perintahnya untuk dihancurkan.
Angka ini tidak sesuai dengan perkiraan intelijen AS. Washington memperkirakan Hamas memiliki 25.000 hingga 30.000 pejuang sebelum genosida. Perkiraan AS menunjukkan bahwa 20–35% dari pejuang perlawanan tersebut telah tewas sejak 7 Oktober 2023. Hal itu setara dengan sekitar 4.000 hingga 8.750 kematian; jauh lebih sedikit daripada angka yang disampaikan Trump.

Narasi Sejarah yang Menyesatkan
Trump juga menulis bahwa perang di Palestina telah berlangsung selama 3.000 tahun. Para sejarawan dan analis politik menolak klaim ini sebagai tidak berdasar. Tidak ada bukti yang mendukung gagasan tentang konflik yang berlangsung tanpa henti selama ribuan tahun.
Postingan tersebut juga menuduh Gerakan Perlawanan Hamas telah membunuh wanita dan anak-anak Israel selama operasi militer pada 7 Oktober. Namun, laporan Israel dan kesaksian para survivor memperumit narasi ini. Bukti menunjukkan bahwa seorang bayi Israel meninggal pada hari itu akibat Direktif Hannibal yang diterapkan oleh tentara Israel sendiri. Kesaksian para survivor Israel juga menunjukkan bahwa pejuang Hamas, dalam beberapa kasus, berusaha melindungi pemukim Israel dari tembakan tentara Israel.

Beberapa penyelidikan membuktikan bahwa Hamas pada dasarnya menargetkan pangkalan militer Israel, yang banyak di antaranya dibangun di dalam pemukiman tempat 'warga sipil' tinggal. Tumpang tindih ini menyebabkan korban sipil, namun melemahkan klaim Trump bahwa Hamas secara sengaja membunuh wanita dan anak-anak.

Retorika Berbahaya
Postingan Trump melampaui data statistik. Ia menyuruh "warga Palestina yang tak bersalah" untuk meninggalkan Gaza dan pindah ke daerah yang lebih aman. Ia mengancam bahwa pejuang Hamas akan "diburu dan dibunuh." Bahasa semacam ini mengaburkan batas antara sasaran militer dan populasi sipil, meniru narasi Israel yang membenarkan kerusakan besar-besaran terhadap warga sipil.
Trump dikenal sering mengulang klaim Israel. Ia berulang kali mengklaim bahwa Hamas membunuh dan membakar bayi serta memperkosa wanita, klaim yang telah dibantah oleh beberapa penyelidikan Israel dan internasional."

Quds News Network, https://t.me/QudsNen/189612 https://qudsnen.co/trump-issues-deadline-post-for-hamas-to-accept-deal-packed-with-false-claims/

×